dubaire

Posted by & filed under Articles, Business.

Perusahaan atau organisasi bisnis, tak pelak telah menjadi institusi paling penting dalam era kapitalisme global seperti saat ini. Setiap hari, selama 24 jam tanpa henti, seribu satu jenis produk dari beragam perusahaan hadir menyapa dan menemani kita.

Derap bisnis mereka-lah yang mungkin terus menjaga roda peradaban modern terus menapak maju. Jutaan orang bekerja didalamnya, temasuk Anda dan saya juga. Jutaan orang merajut kinerja bisnis, memastikan bahwa sirkulasi ekonomis terus berputar.

Lalu, perusahaan raksasa manakah yang telah menjadi dewa dalam panggung kapitalisme global itu? Di hari Senin terakhir menjelang bulan Ramadhan ini, saya mau mengajak Anda semua untuk menjelajah lansekap bisnis mondial : menerawarng peringkat 10 perusahaan paling besar sejagat di tahun 2012 ini.

Setiap tahun majalah bisnis Fortune selalu menerbitkan peringkat 500 perusahaan terbesar di dunia, berdasarkan sales revenue-nya. Dalam daftar peringkat berikut ini, saya hanya akan menyajikan ranking 10 perusahaan terbesar. Kriteria terbesar dilihat dari sales revenue (pendapatan) yang dicapai pada tahun 2011 lalu. Dan angka pendapatan dibawah ini sudah saya konversi dalam rupiah.

1. Royal Dutch Shell —-> revenue 4.300 trilyun
2. Exxon Mobil ———> 4.050 T
3. Wal-Mart Store ——> 4.000 T
4. British Petroleum —-> 3.400 T
5. Sinopec Oil Group —-> 3.300 T

6. China National Petroleum –> 3.100 T
7. State Grid (PLN China) —-> 2.300 T
8. Chevron (dulu Caltex) —–> 2.200 T
9. ConocoPhillips ————-> 2.130 T
10. Toyota Motor ————> 2.100 T __(“Read more”,”bonestheme”) »

Print Friendly

ASP.NET_Logo

Posted by & filed under ASP.NET, Information Technology.

By , 30 Jan 2008
   4.94 (201 votes)
Prize winner in Competition “Best ASP.NET article of January 2008″

Introduction

ASP.NET 2.0 has many secrets, which when revealed can give you big performance and scalability boost. For instance, there are secret bottlenecks in Membership and Profile provider which can be solved easily to make authentication and authorization faster. Furthermore, ASP.NET HTTP pipeline can be tweaked to avoid executing unnecessary code that gets hit on each and every request. Not only that, ASP.NET Worker Process can be pushed to its limit to squeeze out every drop of performance out of it. Page fragment output caching on the browser (not on the server) can save significant amount of download time on repeated visits. On demand UI loading can give your site a fast and smooth feeling. Finally, Content Delivery Networks (CDN) and proper use of HTTP Cache headers can make your website screaming fast when implemented properly. In this article, you will learn these techniques that can give your ASP.NET application a big performance and scalability boost and prepare it to perform well under 10 times to 100 times more traffic. __(“Read more”,”bonestheme”) »

Print Friendly

Posted by & filed under Information Technology, PHP.

We all have our bad habits. In this article, we’ll go over a list of bad practices that are worth examining, reevaluating, and correcting immediately.

Republished Tutorial

Every few weeks, we revisit some of our reader’s favorite posts from throughout the history of the site. This tutorial was first published in February of 2011.


Who the Hell Do You Think You Are?

Every time I open a project that isn’t mine, it’s accompanied by a tinge of fear that I’m walking into some kind of Temple of Doom scenario, filled with trap doors, secret codes, and that one line of code that, upon alteration, brings down the entire app (and possibly sends a giant boulder hurtling toward me down a narrow hallway).

When we’re wrong, and everything is fine apart from some minor differences in “how I would have done it,” we breathe a sigh of relief, roll up our sleeves, and dive into the project.

But when we’re right… Well, that’s a whole different story.

Our first thought upon seeing this unholy mess is usually along the lines of, “Who the hell does this guy think he is?” And rightfully so; what kind of programmer would willingly create such an unholy mess out of a project? __(“Read more”,”bonestheme”) »

Print Friendly

Posted by & filed under Articles, Religion.

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim … Awal shalat ditandai dengan berkumandangnya adzan, tetapi pasar, kantor, terminal serta tempat-tempat lain masih saja hiruk pikuk dipenuhi umat muslim. Mereka tidak bergegas memenuhi panggilan azan ini, bahkan ada juga yang melalaikan sholat lima waktu. [tanya kenapa..??]

Menunaikan shalat tepat waktu berarti melatih diri untuk disiplin. Bila kita mulai dari disiplin shalat, maka kita akan terbiasa melakukan disiplin-displin dalam kegiatan lainnya. Shalat tepat waktu bisa menjadi ukuran disiplin bagi seorang muslim. Kebayang kan, orang yang terbiasa menunda sholatnya, biasanya sering dateng kuliah telat, waktunya tidak terkelola dengan baik, sehingga terkadang mengerjakan sesuatu (tugas dari dosen misalnya) selalu disaat waktunya mulai sempit, nah hasilnya pasti tidak maksimal. Dll…

Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda :

“…Seandainya orang-orang mengetahui pahala azan dan barisan (shaf) pertama, lalu mereka tidak akan memperolehnya kecuali dengan ikut undian, niscaya mereka akan berundi. Dan seandainya mereka mengetahui pahala menyegerakan shalat pada awal waktu, niscaya mereka akan berlomba-lomba melaksanakannya. Dan seandainya mereka mengetahui pahala shalat Isya dan Subuh, niscaya mereka akan mendatanginya meskipun dengan jalan merangkak.” (HR. Bukhari).

Pesan Khalifah Usman bin Affan ra:

“Orang-orang yang memelihara shalat lima waktu dan mengerjakannya tepat pada waktunya, maka Allah akan memuliakan orang itu dengan sembilan macam kemuliaan:

1. Dicintai Allah ..

2. Badannya senantiasa sehat ..

3. Dijaga oleh Malaikat ..

4. Diturunkan berkah untuk rumahnya ..

5. Mukanya akan kelihatan tanda orang yang shaleh ..

6. Allah akan melembutkan hatinya ..

7. Dapat melalui jembatan Shiratal Mustaqim layaknya seperti kilat

8. Akan diselamatkan dari api neraka ..

9. Allah akan menempatkannya ke dalam golongan orang-orang yang tidak takut dan tidak bersedih …

Semoga bermanfaat dan Dapat Diambil Hikmah-Nya ….

Print Friendly

allah-gravure-medium

Posted by & filed under Articles, Religion.

Yang membuat semangat ketika saya hendak membuat posting tentang Amalan Harian – Dzikir Ustdz Yusuf Mansur Wisatahati episode 25/04/2012, ini adalah ucapan Ustdz Yusuf Mansyur pada Wisatahati episode 30/04/2012. Beliau  mengatakan secara garis besar seperti ini “Semua orang bisa jadi yusuf mansur. yaitu dengan mensharing ilmu yang didapat dari ceramah/tausyiah yusuf mansur kepada orang lain dengan kemampuan yang ada dalam diri kita. sehingga kita bisa mendapatkan pahala yang sama dari Allah SWT.Amin”.

Semoga Postingan ini berguna bagi orang banyak dan mohon koreksi jika terdapat kesalahan :) . __(“Read more”,”bonestheme”) »

Print Friendly

agilepreview

Posted by & filed under Articles, Information Technology.

Agile or Agile Development – we hear these words more often these days. But do we really know what it is all about? How can it help us become more effective, while having lots of fun developing software? How can we use it to communicate with business people and make this communication easy and constructive for both sides?

 


What is Agile Development?

There were a bunch of very talented and experienced guys developing some serious software. These developers observed other companies and development teams, and how their processes made their work easier. They compiled their observations to create the Agile Manifesto. And they said:

We are uncovering better ways of developing software by doing it and helping others do it. Through this work we have come to value:

  • Individuals and interactions over processes and tools
  • Working software over comprehensive documentation
  • Customer collaboration over contract negotiation
  • Responding to change over following a plan

That is, while there is value in the items on the right, we value the items on the left more.

In this article, I will present twelve theories and techniques of Agile Development. This is just the first step to the new world of Software Development process. __(“Read more”,”bonestheme”) »

Print Friendly

Screen-shot-2012-06-30-at-12.14.27-AM2

Posted by & filed under Business, Information Technology.

Jika Anda sempat membaca tulisan saya tentang KPI pada social media maka sebenarnya topik dalam tulisan itu berhubungan langsung dengan apa yang kita kenal dengan ROI (Return Of Investment). Untuk menghitung ROI tentu harus ada patokan yang jelas, nah KPI lah sebagai tolok ukur ROI tersebut.

Banyak yang menyebutkan ROI pada social media tidak bisa diukur tetapi bisa dilacak, atau ada juga yang bilang bahwa ROI social media itu bisa diketahui jika tingkat kepuasan pelanggan bergerak naik karena aktivitas online community.Dan, masih banyak lagi penjelasan-penjelasan lain tentang ROI pada social media.

Selagi jawaban-jawaban di atas bermunculan, yang kadang membingungkan dan kadang juga keliatannya meyakinkan adalah, Anda akan tetap mendapat kesulitan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari rekan bisnis Anda ataupun klien, yang menginginkan jawaban dalam perspektif bisnis yang masuk akal.

Hal-hal tersebut yang kadang membuat kita semua skeptik tentang social media, yang keliatannya tidak memiliki kejelasan dalam struktur dan alur. Kenapa Anda harus mencari sesuatu yang keliatannya tidak terukur? Dan bagaimana Anda bisa men-track dan mengumpulkan data-data dari alat ukur yang tepat? Bagaimana Anda bisa mengontrol kesalahan-kesalahan yang kerap terjadi? Bagaimana mengartikulasikan kasus-kasus bisnis untuk social media?

Jika Anda pelaku social media dalam konteks eksekutor, maka bisa jadi Anda akan menyaksikan pembeli membuat keputusan pembelian berdasarkan review dari pembeli lainnya atau karena melihatlink yang mereka dapat dari Twitter. Anda juga mungkin menyaksikan perubahan setimen pada sebuahbrand seiring dengan apa yang brand lakukan di social media. Anda juga mungkin pernah berhasil menaikkan share of voice brand yang Anda handle melewati kompetitor mereka dengan menggunakaninfluencer-influencer yang berpengaruh dan menggunakan brand ambassador.

Apapun yang terjadi, menjustifikasi kasus bisnis untuk social media masih menjadi pertanyaan besar. Bagaimana menjustifikasi apa yang ingin Anda coba atau yang sedang Anda kerjakan? Bagaimana meminta budget untuk sebuah proyek social media? Dan lain sebagainya.

Ketidakyakinan dalam mengukur ROI dari social media

Fakta yang sering kita dapatkan adalah, selalu ada ROI pada setiap benda ataupun jasa yang memiliki nilai, namun bagaimana kita bisa menghitung ROI dari social media tidak selalu terlihat dengan jelas. Studi dari Lenskold Group menampilkan data pengukuran ROI social media dibandingkan dengan pengukuran ROI dari pemasaran tradisional (traditional marketing). Studi ini menunjukkan bahwa kurang dari 20% orang yang merasa bisa mengukur ROI social media (lihat gambar di bawah ini).

Dari responden yang didapat oleh Lenskold Group atas studi mereka tentang ROI pada marketing, yang menyebutkan pengukuran social media adalah high priority ada sebanyak 55%, dengan alasan (bisa dilihat di tabel bawah):

  • 65% membutuhkan improvement pada efektivitas
  • 59% membutuhkan sarana untuk berintegrasi dengan aktivitas marketing lainnya
  • 48% merasa perlu untuk menampilkan hasil yang terukur

Dan dari responden yang memasukkan pengukuran social media sebagai low priority (45%), hasil yang didapat adalah:

  • 41% mengatakan mereka masih bereksperimen dengan social media
  • 19% tidak memiliki defini dan objektif yang cukup jelas
  • 18% tidak memiliki budget yang cukup untuk social media

Apa yang membuat ROI social media sekarang dibutuhkan?

Dalam teori pengadopsian teknologi yang dibuat oleh Roger’s Diffusion Theory, kita bisa melihat bagaimana sekelompok orang mengadopsi teknologi dengan cara yang berbeda-beda tiap waktu. Kelompok orang tersebut adalah:

  • Kelompok The Innovators: Selalu ingin jadi yang pertama dalam mengadopsi teknologi-teknologi terbaru
  • Kelompok The Early Adopters: Kelompok ini adalah kelompok kedua yang terjun menjajal teknologi terbaru setelah kelompok Innovators mencobanya. Kelompok ini belum menganggap ROI dari social media sesuatu yang urgent (at least untuk 5 tahun ke depan)
  • Kelompok The Early Majority: Kelompok ini adalah kelompok terbesar yang kebanyakan bekerja di perusahaan-perusahaan. Mereka bersikap “wait & see” untuk  segala sesuatu yang baru. Mereka merasa harus diyakinkan dahulu. Mereka menyukai segala sesuatu yang sudah pasti sehingga mereka bisa memutuskan langkah-langkah berikutnya. Dari kelompok inilah muncul pertanyaan “Apakah ROI dari social media?”, dengan kata lain mereka akan jadi loyal begitu ada bukti yang bisa ditunjukkan
  • Kelompok The Late Majority: Kelompok ini baru mau mengadopsi sesuatu yang baru setelah kelompok Early Majority menggunakannya
  • Kelompok The Laggards: Kelompok ini tidak pernah mengadopsi teknologi baru apapun

Alasan mengapa kini ROI dari social media dipertanyakan adalah karena pada saat ini, kita sudah berada pada fase ketiga dimana dua fase pertama sudah dilakukan oleh kelompok The Innovators dan Early Adopters. Keduanya tidak membutuhkan apapun yang bisa menahan mereka untuk mengadopsi sesuatu. Dan kelompok berikutnya adalah The Early Majority, dimana mereka membutuhkan bukti; contoh kasus dan ROI. Kelompok inilah yang mulai menanyakan pengukuran social media dan juga ROI-nya.

Selain itu ada beberapa situasi yang akhirnya mendorong sebuah brand untuk terlibat dalam social media. Munculnya pertanyaan-pertanyaan seperti “Apa yang kita harus lakukan di Facebook dan Twitter?” Dan seringkali banyak yang belum terlalu faham apa yang ingin mereka cari di ranah baru ini, kecuali yang mereka tahu adalah kompetitor mereka sudah mulai lompat masuk ke arena social mediadan mereka juga harus ikutan “masuk”. Dan ini bisa diartikan bahwa tidak ada analisa bisnis, yang terjadi adalah karena disuruh oleh atasan. Kondisi tersebut menyebabkan banyak perusahaan/brandyang harus melakukan reaksi PR dadakan terhadap krisis-krisis khas social media yang terjadi. Negatif sentimen yang melonjak membuat keputusan-keputusan harus diambil dengan segera, dan ini menyadarkan akan kebutuhan atas studi kasus ataupun penghitungan ROI tersebut.

Apa yang dibutuhkan untuk menghitung ROI dari Social Media

Strategi, Tujuan Bisnis dan Objektif dari Social Media

Setiap organisasi memiliki tujuan dan objektif yang spesifik untuk dicapai, sehingga inilah salah satu alasan mengapa jawabannya bisa bermacam-macam. Salah satu contoh misalnya:

  • Menentukan apa yang dibicarakan oleh orang-orang di dunia maya tentang brand Anda melaluisocial media monitoring
  • Mengumpulan data-data kompetisi
  • Berhubungan dengan pengguna secara online
  • Mengarahkan sebuah idea melalui berbagi konten-konten yang relevan
  • Memaksimumkan reach konten dan pesan lewat social media
  • Mendukung campaign-campaign sales dan marketing
  • Membantu proses recruiting
  • Membangun komunitas pengguna

Mengumpulkan data social media, pengukuran dan KPI

Banyak yang salah mengartikan social media data, pengukuran dan KPI sebagai ROI. Data dan pengukuran bukanlah ROI. Data dan pengukuran adalah agar kita bisa mengetahui bagaimana reaksi publik terhadap brand/perusahaan kita di dunia maya. Untuk mendapatkan ROI, Anda harus menggunakan data pengukuran lalu mengubahnya ke dalam bahasa bisnis, plus keuntungan-keuntungannya (benefit).

Yang mana ROI dan yang mana yang bukan

Seperti yang dibahas di atas, ROI bukanlah metrics (pengukuran), tetapi Anda butuh metrics untuk mengukur nilai inisiatif bisnis, apakah itu didorong oleh social media ataupun bukan. Pehitungannya seperti ini:

Benefit itu bisa diukur dari misalnya rating kepuasaan pengguna atau penurunan expense pada agencustomer service, dan lain sebagainya.

Costs adalah jumlah investasi pada program social media yang dijalankan, melibatkan juga manpower, proses marketing, teknologi (software dan implementasinya).

Sudah saatnya kita semua mulai menggali dan menemukan angka ukuran pada aktivitas-aktivitas yang dilakukan di social media. Sehingga sebuah brand jadi memiliki informasi bernilai yang membuat Anda bisa dikategorikan sebagai thought-leader, terutama bila Anda benar-benar berkemampuan baik dalam mendapatkan ROI untuk social media. Memang dibutuhkan keberanian, kegigihan dan seseorang yangdetail-oriented. Namun dengan latihan dan disiplin,  maka mendapatkan ROI untuk social media akan segera jadi spesialisasi Anda.

Catatan:
Sumber tulisan sebagian besar didapat dari: ROI of Social Media: Myths, truths and How To Measure, oleh Dr. Natalie L. Petouhoff.
 
source: http://dailysocial.net/2012/07/01/dailyssimo-roi-pada-social-media/
Print Friendly

css

Posted by & filed under Information Technology, PHP.

I’m a backend developer because I enjoy being close to data. That said, I’ve always thought I’d make a pretty amazing front-end developer. I’m a bit of a mediocre designer, but that doesn’t stop me from bringing my mediocre designs to life in the best damn way possible. So let me share with you a few things I’ve learned about CSS over the years.

CSS is perhaps the best “language” suited for what it does. Unfortunately, a number of designers and front-end developers with limited back-end experience don’t understand the raw power that it provides. At some point I began understanding that CSS was really just classes and properties, not to be confused with the class attribute. Coupled with that, I abandoned very early the notion that HTML (including class and id attributes) had anything to do with CSS. __(“Read more”,”bonestheme”) »

Print Friendly

Fotolia_29534511_Subscription_L-616x190

Posted by & filed under Information Technology, PHP.

“X PHP Snippets” type articles abound on the Internet, so why write another one? Well, let’s face it… the PHP snippets in them are generally lame. Snippets that generating a random string or return $_SERVER["REMOTE_ADDR"] for the IP Address of a client really aren’t that interesting and are of modest usefulness. Instead, here’s five snippets that you’ll no doubt find interesting and useful, presented along with the problems that inspired them. I hope the creativity in many of them inspire you to write better and more creative code in your own day-to-day endeavors. __(“Read more”,”bonestheme”) »

Print Friendly