Andrew Garfield, left, and Jesse Eisenberg stars as "Mark Zuckerberg" in Columbia Pictures' THE SOCIAL NETWORK.

Posted by & filed under Articles, Business.

Mungkin Anda sudah menonton film berjudul “The Social Network”, sebuah film tentang cerita pendirian Facebook. Kutipan diatas sangat saya ingat, dan membuat saya menyadari bahwa mencuri sebuah “ide” sama dengan hanya mencuri sebuah gambaran kecil.

Bahkan saat seseorang mencuri ide Anda yang berharga, mereka tidak bisa mencuri sumber daya dan kemampuan, sesuatu yang lebih penting dan tidak tercakup dalam gambaran yang kecil itu. Berfokuslah pada hal-hal unik milik Anda yang tidak bisa dicuri oleh para kompetitor :

Mereka tidak bisa mencuri visi jangka panjang Anda: Craiglist dimulai di SF, Facebook di Harvard, Google memulai dengan hanya satu juta halaman, dan Microsoft memulai sebagai interpreter dasar (basic interpreter). Semuanya memiliki market sangat minimum yang bisa dijalankan. Pertanyaannya adalah: “Apa visi jangka panjang Anda?” Visi ini dan jalan yang akan Anda ambil, tidak bisa dicuri. Saat seseorang mencoba mencuri ide Anda, biasanya mereka hanya mencuri market yang sedang Anda incar sekarang. Bisakah Anda membayangkan ConnectU memiliki visi yang sama dengan Facebook seperti yang dimiliki Mark? Saya meragukan hal itu.

Mereka tidak bisa mencuri keahlian Anda: Ide yang benar-benar bagus datang secara alami dan biasanya berdasarkan pada pengalaman Anda sendiri. Marc Benioff memulai salesforce.com setelah bertahun-tahun mempelajari dunia bisnis software saat bekerja di Oracle. Banyak startup lain yang dilahirkan dari rasa frustasi pendirinya dengan proses yang berjalan di bidang keahlian mereka. Pengetahuan mendalam tersebut hanya bisa didapat dari pengalaman secara pribadi.

Mereka tidak bisa mencuri pengalaman yang Anda miliki: Versi sukses dari produk Anda tentunya akan terlihat berbeda dari ide yang dicuri seseorang, yang tentunya masih dalam tahap pengembangan. Setelah mereka mencuri ide Anda, jalan akan bercabang oleh poros dan kegagalan yang Anda lewati. Seseorang yang berani “mencuri ide Anda” tentunya sudah sangat terkesima dengan ide tersebut dan kemungkinan besar tidak akan mendengarkan feedback yang mungkin bisa mengubah pendapatnya.

Mereka tidak bisa mencuri talenta Anda (yang ada sekarang): Apakah Anda berpikir bahwa si kembar Winkelvoss bisa saja merekrut tim yang sekarang berada di Facebook? Dibutuhkan karisma tertentu dari seorang founder untuk bisa menarik orang-orang yang bertalenta. Banyak orang berpikir bahwa mereka bisa melakukan outsourcing developer atau menyewa seseorang untuk menulis dengan upah 10 dolar per jam agar bisa menjual sesuatu. Mereka sangat konyol! Jika Anda mengelilingi diri Anda dengan orang-orang yang sangat cerdas, yang Anda percayai di hari-hari awal, maka mereka tidak bisa dicuri. Walaupun bisa, artinya Anda sudah memilih orang yang salah sebagai cofounder. Hanya saat Anda melewati tahap ‘ide’, gangguan dari perusahaan sejenis akan menjadi masalah.

Mereka tidak bisa mencuri wawasan dan kemampuan analisa Anda: Data yang Anda kumpulan pada masa-masa awal sangatlah penting dan untuk kebanyakan bagian, menambah keunikan pada konsep yang Anda miliki. Catatlah setiap klik, konversi, dan setiap complain yang datang dari pengguna. Temukan apa yang bekerja, dan yang lebih penting, apa yang tidak bisa bekerja. Orang-orang yang mencoba mencuri ide Anda akan berpikir bahwa hal-hal seperti tagline atau kegiatan yang Anda lakukan bisa “ada” karena terlihat atau terdengar bagus. Apa yang tidak mereka ketahui adalah setiap tindakan dan kata-kata Anda memiliki arti yang didapat melalui analisa yang teliti.

Mereka tidak bisa mencuri rencana Anda untuk mendapat penghasilan: Anda bisa meneliti sebagian besar model pendapatan di internet sampai ke bagian paling sederhana, seperti apakah yang menjadi tujuan sebuah iklan. Nilai utamanya datang dari detail. Siapa yang Anda targetkan? Seberapa banyak? Tipe iklan apa yang Anda jalankan? Kenapa Anda bisa menentukan harga tersebut? Kenapa hal itu bisa menghasilkan konversi?

Yang mungkin bisa dicuri hanyalah daftar harga Anda. Mereka tidak bisa mencuri hasil pengujian berkali-kali yang Anda lakukan, pengembangan pelanggan, dan arti sebenarnya dari angka-angka tersebut. Saat tiba saatnya mereka harus mengganti angka-angka yang mereka “tiru” itu, mereka tidak akan mengetahui apa yang harus dilakukan. Anda akan berada sangat jauh di depan sebelum mereka menyadari tindakan yang harus diambil.

Mereka tidak bisa mencuri passion Anda untuk menyediakan servis yang luar biasa: Zappos bukan menjual sepatu, yang mereka jual adalah pelayanan pelanggan yang hebat. Jika seseorang mencoba untuk mencuri ide Zappos satu dekade yang lalu, maka mereka mungkin akan berpikir: “Ayo membuat sebuah ecommerce yang menjual sepatu. Zappos sudah sukses. Ini merupakan ide yang hebat!”

Sesuatu yang mereka lewatkan adalah passion untuk memberikan pelayanan pelanggan yang luar biasa. Bisakah Anda berpikir bahwa orang yang mencuri ide itu juga akan meniru ide untuk “menuliskan catatan terima kasih untuk pelanggan”?

Mereka tidak bisa mencuri semangat (passion) Anda untuk membuat “Ide” menjadi kenyataan: Orang-orang yang mencuri ide seringkali merupakan “follower”. Mereka adalah produk hasil dari passion dan visi yang Anda tunjukkan kepada mereka. Seringkali mereka akan merasa bersemangat tentang ide tersebut untuk beberapa hari, tapi semangat itu akan hilang segera setelah mereka menyadari kesulitan yang menghadang di depan. Karena ide yang mereka curi hanya berupa gambaran kecil, mereka kemungkinan akan kehilangan semangat setelah tersesat dalam jalan yang ada di balik ‘gambaran kecil’ itu.

Mereka tidak bisa mencuri keberuntungan Anda: Keberuntungan adalah hal yang lucu, dan bisa melipat gandakan kesuksesan Anda. Hal ini bisa saja terjadi (atau tidak terjadi) pada startup. Ini bisa menjadi pembeda antara mendapat uang dalam jumlah sedikit, atau sangat banyak. Anda tidak bisa mencuri keberuntungan. Seperti hantu yang hanya bisa Anda lihat samar-samar di foto.

Terbukalah dengan ide Anda. Saya menyarankan untuk membagikan ide Anda di blog Anda untuk mendapat masukan dari orang lain. Jangan takut pada seseorang yang akan mencuri ide Anda, cemaskanlah hal-hal yang tidak bisa mereka curi dari Anda.

 

source: http://startupbisnis.com/they-will-steal-your-idea-but-not-your-passion/

Print Friendly

allah-gravure-medium

Posted by & filed under Articles, Religion.

Manajemen keuangan keluarga bagi keluarga muslim sangat penting dalam membantu mewujudkan rumah tangga yang harmonis dan mampu menjadi pendukung bagi aktivitas keislaman dan keseharian rumah tangga yang islami. Banyak kita temukan masalah ekonomi atau keuangan keluarga yang menjadi penyebab ketidakharmonisan dalam rumah tangga dan akhirnya mengganggu aktivitas seorang muslim dalam melaksanakan tugasnya, baik sebagai seorang istri, suami, atau anak untuk beribadah kepada Allah SWT.

Dalam kaidah fiqh, ekonomi keluarga mutlak tanggung jawab suami. Jika istri berpenghasilan, hasilnya untuk diri sendiri dan jika digunakan untuk mencukupi kebutuhan keluarga, maka bernilai shodaqoh.
Rumah tangga, yang di dalamnya ada suami, istri dan anak-anak, merupakan unit keuangan yang terkecil. Pada umumnya saat awal menikah, sering terjadi kesulitan mengatur keuangan rumah tangga, yang berakibat terjadi ‘deficit cash flow’ pada akhir bulan, karena pengelolaan keuangan belum tertata dengan baik, dan belum ada perencanaan secara komprehensif.
Manajemen keuangan keluarga yang baik senantiasa menjaga keseimbangan (tawazun) antara besarnya pendapatan keluarga dengan besarnya pengeluaran. Islam mengajarkan kita untuk senantiasa bersifatqona’ah ketika pendapatan keluarga tidak begitu besar dan berusaha untuk mengoptimalkan pos-pos pengeluaran dengan baik, jangan sampai ‘besar pasak daripada tiang’.
POS KEUANGAN KELUARGA
Pos apa yang pertama kali kita sisihkan saat pertama kali menerima pendapatan? Banyak ibu rumah tangga dan para bapak menjawab “belanja rutin”. Menurut perencana keuangan keluarga Achmad Ghazali, jawaban itu kurang benar. ”Yang benar adalah sisihkan dulu untuk zakat, infak dan sedekah (ZIS), bayar utang, menabung baru belanja rutin.”
Mengapa demikian, menurutnya karena belanja adalah pos yang paling fleksibel sehingga besar atau kecilnya tergantung kebiasaan dan kemauan personal.
ZIS berurusan dengan dunia dan akhirat kalau tidak ditunaikan akan membawa kesengsaraan dunia dan akhirat. Begitu pula utang, sehingga jika utang telat dibayar, maka orang yang bersangkutan harus membayar denda, bunga, dan diteror debt collector dan apabila meninggal masih meninggalkan utang yang belum terselesaikan maka menjadi tanggung jawab keluarganya untuk melunasi. Jika tidak dilunasi oleh keluarganya atau diridhokan oleh pemberi utang akan berakibat kerugian di akhirat.
“Barangsiapa hutang kepada orang lain dan berniat akan mengembalikannya, maka Allah akan luluskan niatnya itu; tetapi barangsiapa mengambilnya dengan Niat akan membinasakan (tidak membayar), maka Allah akan merusakkan dia.” (HR. Riwayat Bukhari)
Dari Amru bin Syarid, Rasulullah SAW bersabda :
“Penundaan Pembayaran Hutang oleh orang yang mampu adalah suatu kedzoliman yang menghalalkan kehormatan dan penyiksaannya.” (HR. Lima Ahli Hadits, kecuali Tirmidzi)
Hampir semua manusia mengalami masa tua/sulit/lemah/sakit, jadual pendidikan anak yang tidak bisa ditunda, meninggalnya sang pencari nafkah utama dan lain sebagainya makaTabungan/Investasi dan Proteksi (Asuransi) sangat diperlukan dan harus dikeluarkan lebih dahulu sebelum pendapatan digunakan untuk pos belanja rumah tangga. Gunakan 5 perkara sebelum datangnya 5 perkara.
“Allah SWT akan memberikan rahmat kepada seseorang yang berusaha dari yang baik, membelanjakan hartanya secara sederhana dan dapat menyisihkan kelebihannya untuk menjaga saat miskin dan membutuhkan” (HR. Muslim dan Ahmad)
Mengapa kita harus menabung / investasi :

  • Jadual pendidikan anak tidak bisa ditunda dan tidak bisa disiapkan mendadak
  • Akan mengalami masa kurang produktif /tidak produktif (kalah bersaing / tua
  • Supaya tidak menjadi beban orang lain (keluarga dan masayarakat) bahkan seharusnya semakin bertambah umur semakin sejahtera
Mengapa kita harus berproteksi / ber-asuransi :

  • Semua manusia mengalami sakit begitu pula kita, pasangan kita, dan anak-anak kita, sedang biaya rumah sakit cukup mahal
  • Sebagai antisipasi bila mengalami musibah mendadak seperti pencari nafkah utama meninggal/cacat tetap/sakit kritis di usia muda/produktif. (salah satu kesalahan : mobil diasuransikan tetapi jiwa pencari nafkah utama tidak diasuransikan)
  • Kita tidak menginginkan kekayaan kita berkurang apalagi sampai jatuh miskin jika mengalami kejadian no.1 dan 2
  • Kita tidak menginginkan pendidikan (cita-cita) anak-anak kita gagal jika mengalami kejadian no.1 dan 2
Oleh karena itu prioritas alokasi pengeluaran keluarga sesuai syariat Islam terdiri dari minimal 4 Pos, yaitu:
  1. Untuk dikeluarkan zakatnya (Minimal 2,5% SEBAIKNYA di atas 5%)
  2. Pengeluaran kepada pihak ketiga (Hutang) (Maksimal 25%).
  3. Tabungan/Investasi dan Proteksi (Asuransi) untuk kehidupan masa depan dan masa sulit (Minimal 20%)
  4. Terakhir untuk alokasi kebutuhan kita sekarang (Maksimal 55%)
Dari ke empat pos tersebut seringkali terbalik, pos terakhir malah menjadi yang utama dan pos paling utama justru menjadi yang terakhir.
Cash Flow seorang muslim, digambarkan seperti segentong air yang mana selalu mendapat aliran secara berkala dalam setiap bulan. Langkah awal yang harus dilakukan bagi seorang muslim adalah tidak menyediakan sembarang gentong. Gentong yang kita sediakan adalah gentong yang bermerek Gentong Q ( Qona’ah). Karena sebesar apapun pendapatan kita, tidak akan bisa cukup kalau kita sendiri tidak merasa cukup dengan yang kita dapat. Sebelum masuk dalam gentong, air harus melewati Filter Halalan Thoyyiban.
Setelah air masuk ke dalam gentong, Kran Air harus ditutup dulu. Kenapa harus ditutup dulu? Karena ”Air” masih harus membasahi bagian terpenting. Yaitu Hak Allah, (Zakat Infaq dan Shodaqoh). Baru setelah Hak Allah kita tunaikan, ”Air” kita alirkan ke saluran “Hak pihak Ketiga”. Apakah hak pihak ketiga itu? Pihak ketiga adalah  hutang dan cicilan yang wajib kita tunaikan. Barulah setelah itu, kita tentukan seberapa banyak ”Air” harus kita sisakan sebelum dihabiskan. Kita alirkan ”Air” ke saluran “Hak Pribadi Masa Datang”. Yaitu untuk menabung, investasi, dan proteksi/asuransi (kesehatan, pendidikan anak, ibadah haji, masa lemah dan tidak produktif, dll).Setelah melewati saluran-saluran tersebut, barulah ”Air” bisa kita nikmati untuk mencukupi kebutuhan. Dan ingat! Kran harus tetap difungsikan. Artinya, kita harus bisa hidup hemat, menyesuaikan konsumsi kita dengan ”Air” yang tersedia.

Print Friendly

Posted by & filed under Facebook, Information Technology.

_The information here is largely out of date due to Facebook API changes. Please see here for an updated tutorial.

If you have a personal blog, it is only natural that you want to share your work with others. If you use blogging software, such as WordPress, then chances are plugins already exist that will automatically share your content. If like me, however, you use a static blogging engine – or simply like to tinker – then you will need to create your own sharing tool.

I use Second Crack as my blogging engine, which recently added the ability to execute post-publication hooks. I created two such hooks, one for Twitter and one for Facebook. I will focus on how to auto-post on Facebook. The method will be sufficiently generic so that you can adapt it to your particular needs. The process consists of three main steps: creating an app on Facebook, obtaining proper credentials, and using those credentials to post on Facebook.

Creating a Facebook App

To auto-post on Facebook, you must first create an app. Go to the Facebook Developer site to begin. Click on the “Create New App” button in the top right corner. You will be presented with the following prompt. Enter a name for your app and continue.

Prompt for creating app in Facebook

Next, you will be presented with a form to customize the app. The header gives important details about your app’s credentials. Write down the App ID and App Secret as you will need them later.

Panel showing App ID and App Secret

Next, in the Basic Info section, add your email address and the domain from which you will be posting. Below is how mine looked.

Basic Info section

Finally, you have to declare how the app integrates with Facebook. In my case, and likely yours, content is posted from a website. Choose the website option and enter the URL of your site. Again, here is how mine looked.

Interaction section

Save the changes. You have now successfully created an app on Facebook.

Obtaining Credentials

Now that you have created the app, you’ll want to use it for sharing content on Facebook from your site. To do this, you need to authorize the app to post on your behalf. Generally after an app has been authorized, the user must be logged into Facebook in order to verify permissions. We can avoid this by requesting a long-term authorization token. The token is then accepted by Facebook as an alternative to an active session.

To authorize the app, you will create a simple php webpage. First, you will need to download the free Facebook PHP API and place it in the same directory as the webpage. Once you have done that, create a file named fb_authorize.php, enter the following code, and then upload it to your site:

<?php
//-- Facebook API --//
require_once 'facebook-php-sdk/src/facebook.php';

//-- App Information --//
$app_id     = 'YOUR APP ID';
$app_secret = 'YOUR APP SECRET';

// Create Facebook Instance
$facebook = new Facebook(array(
    'appId' => $app_id,
    'secret' => $app_secret,
    'cookie' => true
));

//-- To Facebook (Notice we ask for offline access) --//
if (empty($_REQUEST))
{
    $loginUrl = $facebook->getLoginUrl(array(
        'canvas' => 1,
        'fbconnect' => 0,
        'scope' => 'offline_access,publish_stream'
    ));
    header('Location:'.$loginUrl );
}
//-- From Facebook --//
else
{
    $user = $facebook->getUser();
    if($user)
    {
        $access_token = $facebook->getAccessToken();
        echo "Your access token is: <br><br>$access_token";
    }
}
?>

Visit the page in your browser1, which will forward you to Facebook. This is where you will grant permission to your app. Facebook will then send you back to your webpage, which will print out your offline authorization token. Save this token and put it with your App ID and App Secret. You now have obtained all of the necessary credentials to post on Facebook.

Posting To Facebook

Now that you have created an app with sufficient privileges, posting to Facebook from your site is easy. Here is an example:

<?php
//-- Facebook API --//
require_once 'facebook-php-sdk/src/facebook.php';

//-- App Information --//
$app_id       = 'YOUR APP ID';
$app_secret   = 'YOUR APP SECRET';
$access_token = 'YOUR ACCESS TOKEN';

// Create Facebook Instance
$facebook = new Facebook(array(
    'appId' => $app_id,
    'secret' => $app_secret,
    'cookie' => true
));

//-- Customizable options to send Facebook --//
$req =  array(
    'access_token' => $access_token,
    'message' => 'Jeremy Gibbs is a handsome lad!");

//-- Send post to Facebook --//
$res = $facebook->api('/me/feed', 'POST', $req);
?>

Summary

I have shown you how to create a tool suitable for auto-posting to Facebook. You created an app, granted it permission, obtained all required credentials, which you then used to post content. The creation and authorization steps are only required once. After that, you can easily customize when, where, and how content is posted to Facebook.

If you enjoyed this tutorial or have any questions, feel free to contact me via email or follow me on Twitter.


  1. It is important that this page be located on the server that you specified when creating the app. So if you chose http://yourdomain.com, then the page should be somewhere like http://yourdomain.com/fb_authorize.php. 

 

source: http://jeremygibbs.com/2012/02/11/how-to-autopost-facebook

MUST READ: http://developers.facebook.com/roadmap/offline-access-removal/

Print Friendly

Posted by & filed under ASP.NET, Entertainment, Information Technology, PHP, Web.

In the beginning of January, we released the Web Developer Checklist with great interest from the general web community. The checklist helps raising awareness of common best practices for building websites.

It was always the plan to branch the checklist out into technology specific checklists to make it even easier to apply all the best practices.

Today we’re excited to announce the first technology specific checklist – the ASP.NET Developer Checklist. It contains links to many ASP.NET specific tools and solutions to common problems.

Not only is it a great tool for all ASP.NET developers to learn from, but also to track the progress of implementing the various best practices.

We hope it will be received well and add value to the millions of ASP.NET developers worldwide. In the meantime we will be working on finishing another ASP.NET specific checklist that focuses on website performance.

ASP.NET is just the first of many web technologies to receive its own checklist, so remember to check the Web Developer Checklist often for updates.

Print Friendly

Posted by & filed under Information Technology.

 

1. For Super Fast Editing Source Code Use Sublime Text!, its Very very responsive

Sublime_Text_Logo

 

 

2. For Develop PHP Web Applications use Netbeans PHP, its free, lighweight and its powerfull IDE

netbeans-logo

3. The best IDE for Developing Complex .NET Web Application

Basic CMYK

visualstudio2012logo

4. The Best Editor for developing Web Pages .NET

webmatrix-microsoft

Print Friendly

msdotnet

Posted by & filed under ASP.NET, Information Technology.

Introduction

This article will compare four important architecture presentation patterns i.e. MVP(SC),MVP(PV),PM,MVVM and MVC. Many developers are confused around what is the difference between these patterns and when should we use what. This article will first kick start with a background and explain different types of presentation patterns. We will then move ahead discussing about the state , logic and synchronization issues. Finally we will go in detail of each pattern and conclude how they differ from each other.

Here’s my small gift for all my .NET friends , a complete 400 pages FAQ Ebook which covers various .NET technologies like Azure , WCF , WWF , Silverlight , WPF , SharePoint and lot more from here.

Special thanks

This whole article is abstract from http://martinfowler.com/eaaDev/uiArchs.html GUI architectures. Great work by Mr. Martin flower.

Josh Smith and team http://msdn.microsoft.com/en-us/magazine/dd419663.aspx , great work on MVVM.

Mr. Nikhil kothari’s blog http://www.nikhilk.net/Silverlight-ViewModel-Pattern.aspx , awesome source for MVVM.

Mr. Oleg Zhukov explains how to build a  MVP Framework for .NET http://www.codeproject.com/KB/architecture/DotNetMVPFramework_Part1.aspx

Background – Presentation patterns

One of the biggest problems associated with user interface is lot of cluttered code. This cluttered code is due to two primary reasons , first the UI has complicated logic to manipulate the user interface objects and second it also maintains state of the application. Presentation patterns revolve around how to remove the UI complication and make the UI more clean and manageable. Below are different variety and classifications of presentation patterns as shown in the below figure.

Presentation pattern are divided in to three important categories MVP ( Model view presenter ) , MVC ( Model view controller) and finally (PM) presenter model. MVP is further divided in to supervising controller and passive view. Presenter model is further divided by Microsoft team in two technology specific patterns MVVM for silverlight and MVVM for WPF. __(“Read more”,”bonestheme”) »

Print Friendly

msdotnet

Posted by & filed under ASP.NET, Information Technology.

Introduction

This is my first article and I hope you will like it. After reading this article, you will have a good understanding about “Why we need UI design pattern for our application?” and “What are basic differences between different UI patterns (MVC, MVP, MVVP)?”.

In traditional UI development – developer used to create a View using window or usercontrol or page and then write all logical code (Event handling, initialization and data model, etc.) in code behind and hence they were basically making code as a part of view definition class itself. This approach increased the size of my view class and created a very strong dependency between my UI and data binding logic and business operations. In this situation, no two developers can work simultaneously on the same view and also one developer’s changes might break the other code. So everything is in one place is always a bad idea for maintainability, extendibility and testability prospective. So if you look at the big picture, you can feel that all these problems exist because there is a very tight coupling between the following items.

  1. View (UI)
  2. Model (Data displayed in UI)
  3. Glue code (Event handling, binding, business logic) __(“Read more”,”bonestheme”) »
Print Friendly

asp.net and php ecommerce

Posted by & filed under ASP.NET, Information Technology, PHP.

Features, Security, and Extendability are going to be more or less the same. What can be done with PHP can be done with ASP.NET.

Frameworks — Again, when it comes to features of frameworks, it will be more or less the same. However, being more specific than the language itself, you’ll want to consider:

  • What your developers are most comfortable with. Knowledge = efficiency.
  • On a project-by-project basis, one framework in one language might be a better natural fit than a framework in another. Being more specific than the language itself means a framework cannot help but be well-suited to some tasks and less-well suited to others.

Average Development Time — Your average development time for a very small project might be better with PHP since web hosts are so easy to find and dev machines so easy to set up. However, with anything bigger, as long as you have good devs, or are already set up for either, it will probably be a wash.


The main consideration you should make is what technology stack your client wants to be tied to going forward. Neither mixes well (easily) with the other. They may have developers who are familiar with one or the other.

  • If your client likes the idea of being connected to Microsoft, then go with ASP.NET. Some clients will have more comfort regarding future support, upgrades, etc. with MS.
  • If they like the idea of open source and Linux servers, go with PHP. This may interest some clients due to transferability of web hosts, free software, etc.

And lastly, if they don’t care, then go with what you are most comfortable with. There’s not much to it beyond that.

source: http://programmers.stackexchange.com/questions/65414/when-to-use-php-or-asp-net

Print Friendly

asp.net and php ecommerce

Posted by & filed under ASP.NET, Information Technology, PHP.

Introduction

I do not want to call this as a comparison but a list of equivalent features. You can find a lot of links if you search on the internet regarding ‘which is good and which is bad’. Here, I would like to give the same weightage to both technologies as both have its advantages and disadvantages.

Background

Well, I made this list when I was thinking about the right technology for one of my latest requirements. I wanted to make something for a presentation as a part of my Architecture Design job. __(“Read more”,”bonestheme”) »

Print Friendly